cerpen,  coratcoret

Tumpahan Kopi Kintamani


sumber : miner8.com

“Maaf mas , aku tak sengaja menumpahkan kopi nya” suara lembut dari seorang gadis yang terdengar sangat khawatir.
Aku tak memperdulikan tentang suara gadis yang dari tadi meminta maaf itu, fokus ku hanya terletak pada tumpukan lembaran kertas putih yang kini berwarna coklat. Kebiasaan  mengopi sebelum kerja di Pontianak tetap ku bawa sampai aku pindah ke Bali, namun kebiasaan itu pada pagi ini membawa petaka bagiku. Cerita yang telah kutulis untuk novel ku yan ketiga dan kususun semalam sampai tidak tidur kini telah basah dan rusak.
“ Kamu gimana sih, lihat kerjaanku jadi hancur semua” kata ku memarahi orang yang telah menumpahkan kopi tadi.
“ Ma.. maaf mas saya tidak sengaja tadi” kata gadis yang mukanya sangat cantik khas seperti bidadari dari bali itu yang membuat ku sedikit lupa.
“Cuman maaf, kamu ndak tahu berapa lama aku ngerjainnya , sampai-sampai ndak tidur buat ngerjakan lembaran-lemabar yang kamu rusak itu” kataku kesal
“Tapi mas maaf” katanya lagi
“ Kamu cuman bisa bilang maaf maaf saja, apa ndak ada yang lain” kata ku lagi
“Be.. begini saja mas apa mas ada bawa filenya, biar ayu yang tanggung jawab. Ayu akan print kan lagi kebetulan ayu punya teman yang punya tempat percetakan” tawar gadis cantik yang baru saja tanpa sengaja mengenalkan namanya itu.
“ Baik tapi aku harap bisa cepat , karna sebentar lagi aku harus menemui atasanku” kataku sambil duduk lagi.

Sebelum gadis itu pergi untuk mencetak ulang kertas-kertas yang ia tumpahkan kopi, ia kembali membawakan secangkir kopi dari dalam ruangannya sana.
“ Ini mas pengganti minuman nya yang tadi aku tumpahkan” kata gadis itu.
“Kok jadi kopi hitam?” tanyaku bingung.
Gadis itu pun menceritakan tentang kopi yang dibawakannya ini merupakan khas daerah ini yaitu daerah kintamani, orang akan jatuh cinta dan selalu mengingat rasa kopi kintamani ini. Kopi ini juga telah banyak di ekspor ke luar negri oleh petani disini seperti ke wilayah Asia timur dan Eropa. Salah satu petani kopi Kitamani ini adalah ayahnya gadis yang bernama Ayu ini.
Tak menyangka berlama-lama di warung kopi dengan desain rumah khas dari Bali ini terasa menyenangkan juga. Walaupun awalnya aku merasa kesal sekali karna cerita kertas yang ditumpahkan kopi sama gadis itu. Ada yang berbeda disini dengan kota asalku Pontianak, disini warung kopi nya masih sepi pengunjung pagi-pagi. Ntah memang itu karna kebiasaan kopi dulu baru kerja seperti biasanya di Pontianak atau memang karna cuaca pagi ini yang sangat dingin.
“ Masih sepi disini bu? “ tanyaku kepada ibu penjaga warung kopi yang merupakan ibu dari gadis tadi.
“ Masih pagi mas, kemungkinan siangan dikit baru ada pembeli” jawab ibu.
“Wah berarti saya orang pertama ya bu?, iya sih ini baru jam setengah 7 “ kataku sambil tertawa.
Suasana yang sepi  ini sepertinya bagus buat tempat ketemu bu Nila. Bu nila bisa dibilang atasanku dia salah satu pegawai di percetakan ternama di Indonesia yang bertugas untuk menilai tulisan penulis apa bisa masuk percetakan atau tidak. Sambil menunggu gadis tadi pulang aku pun segera mengirimkan pesan singkat ke bu Nila untuk janjian bertemu di warung bernama “ Kintamani Wayan” ini.
Lamunanku pun melayang kebeberapa ingatan beberapa waktu lalu, tulisan-tulisanku beberapa yang ku ajukan kepada bu Nila sering ditolak karna katanya novelku itu kurang rasa, uda biasa bahkan ada yang dibilangnya terlalu norak. Kebali, salah satu cara  agar aku menghasilkan tulisan yang bagus selanjutnya adalah dengan mencari ide ketempat yang ingin di jadikan latar belakang. Beruntung kali ini bu Nila juga  sedang berada di Bali dengan 2 penulis selain aku.
“Misi mas.., ini sudah ku cetak ulang. Mas penulis ya tulisan yang tadi aku tumpahkan kopi itu apa novel mas” kata gadis itu yang tanpa henti bertanya
“ Iya itu novel, doain ya semoga novelnya disetujui oleh pihak percetakan” jawabku.
“Oh begitu, mas keren ya bisa nulis. Ayu dari dulu pengen bisa nulis boro-boro buat cerita , buat 1 kalimat cerita aja ayu pusing mikirkan ceritanya” kata Ayu sambil tersenyum
“Ting trining…” suara pesan masuk yang mengalihkan pembicaraanku dengan gadis cantik itu yang tak lama ia pergi membantu ibunya menyusun gelas. Tertulis “okey tunggu disana jam 10 ya” pesan dari bu Nila. Aku melirik ke sebuah jam di pojok dinding sana, kulihat jam baru menunjukan pukul setengah 8.
“Masih lama ya aku harus disini” kataku dalam hati.
“ Ibu saya ijin duduk disini sampai siang apa tidak apa bu? “ ijinku dengan ibu pemilik warung karna takut ibu itu keberatan karna aku kelamaan di warungnya.
“Iya,Tidak apa kok . Mas duduk saja sampai sore juga tidak apa” kata ibu itu sambil tersenyum dengan wajah yang juga tak kalah cantik dari gadis tadi.
Aku pun mengeluarkan laptop berwarna hitam dari ranselku, sambil mengotak atik tulisanku siapa tahu ada bagian yang masih bisa diubah lagi. Selain fokus terhadap laptop,aku juga memperhatikan kopi hitam yang ada disampingku dengan aroma bau kopi sangat khas dan menyengat  ini. Selain memiliki bau khas yang sangat menggoda, kopi ini terasa manis dan tidak terlalu sepat dan juga pahit. Rasa kopi yang sangat enak menurutku, pantas saja kata gadis itu orang akan selalu mengingat rasanya kalau sudah pernah merasakan kopi ini.
Selain itu gerak gadis cantik bernama ayu itu sungguh sangat menarik perhatianku, kalau diperhatikan kira-kira umurnya sepantaran dengan ku mungkin 20 tahunan atau mungkin masih belasan tahun. Mulai terpikir olehku dapat ide untuk tulisan terbaruku di novel selanjutnya mengambil cerita tentang gadis desa yang sangat cantik yang berkerja sebagai pembuat kopi didesanya dengan kisah lika-liku cinta dan keluarganya pasti sangat menarik. Ditambah lagi dengan sifat riang dan ramah serta lemah lembut yang dimilikinya itu. Aku pun segera menulis di notepad laptopku agar ide ini tidak akan hilang.
“ Aji.. “ terdengar suara milik bu Nila memanggilku.
“ Iya bu, wah ibu datang lebih awal ya. Silahkan duduk bu, ibu mau minum apa?” kataku menyambut bu Nila
“ Terserah aja deh..” kata bu Nila
“ Nah mumpung ibu ada di Kintamani, ibu harus cobain nih kopi khas daerah ini” kata ku lalu memesankan sebuah kopi dengan gadis bernama ayu.
Tak lama kemudian  bu Nila sibuk membolak balikkan kertas yang telah di cetak ulang oleh  Ayu. Kulihat kening bu Nila sekilas ia tampak mengerutkan keningnya itu beberapa kali. Sambil membaca dia juga meminum kopi kintamani yang telah disediakan dalam cangkir kopinya itu.
“Enak sekali ya kopi ini baunya juga sangat menyengat” kata bu Nila lalu melanjutkan membaca tulisan milikku lagi.
            Rasanya ingin ku putar waktu dengan cepat, agar bisa tahu apakah novel kali ini akan ditrima atau novel kali ini akan bernasib sama dengan novel-novel yang aku ajukan sebelumnya. Seperti telah melihat gerak-gerikku bu Nila pun langsung memberikan pendapatnya.
“Ini sudah novel yang ke-4 ya Aji, tapi ibu masih belum merasa kamu ngerjakan novel ini dengan sungguh-sungguh. Saat saya membacanya itu rasanya banyak yang kurang tak seperti novel pertama dan kedua kamu yang telah terbit. Kamu akan saya beri waktu 3 hari buat cari ide dan kerangka ceritanya kalau tidak berhasil mungkin posisi kamu akan saya gantikan karna masih banyak penulis muda yang lain yang lebih berbakat” kata bu Nila
“ Cuman 3 hari bu? , ibu serius” tanya ku lagi
“ 3 hari atau tidak selamanya” katanya sambil menikmati kopi nya kembali.
Aku hanya bisa tertunduk lesu mendengar hal itu, 3 hari itu bukan waktu yang mudah buat mencari ide cerita. Setelah bertemu dengan bu Nila dari warung kopi itu aku pun segera kembali ke penginapanku. Aku mengempaskan tubuhku ke kasur dengan kain berwarna putih itu. Sejenak ingatanku kembali kebeberapa hari ini mulai dari keberangkatanku ke Bali yang merupakan kali pertama menginjakkan kaki keluar Kalimantan Barat sampai kejadian hari ini, kejadian kopi tumpah di warung kopi tadi.
“ Kopi tumpah dan gadis cantik bernama Ayu tadi, mungkin itu bisa jadi bahan cerita ku selanjutnya” kataku sambil duduk  dengan lampu bersinar diatas kepalaku.
****
Keesokan harinya aku pun melakukan kebiasaan pagi hariku itu dan seperti kemarin ingin menikmati secangkir kopi kintamani. Selain itu juga ingin tahu kehidupan gadis cantik itu agar bisa memperkuat rasa dalam tulisan yang akan aku tulis.
“Mas kemarin datang lagi” sambut gadis dengan senyum khas nya itu
“Iya, gimana mas dengan novel mas itu apa ditrima oleh penerbitnya? “ tanya gadis itu
“Sayangnya novel saya yang kemarin tidak di trima, ini saja saya disuruh untuk menulis cerita yang baru” kata ku
“Oh ya  mas kita belum kenalan , nama aku…” kata gadis itu terpotong.
“ Ayu kan. Nama saya Aji panggil nama aja jangan Mas” kataku sambil tersenyum melihat ekpresi tersenyumnya itu.
“ Haha mas sudah tahu, setelah ini mas mau kemana? Apa sudah keliling desa ini?” tanya nya.
“ Belum, aku disini baru sekitaran 2 hari” jawabku.
“ Nah, kalau gitu lebih baik mas ikut aku kita bisa jalan-jalan keliling melihat perkebunan dan desa ini” tawarnya.
Aku pun segera menerimanya, kesempatan yang bagus juga kan buatku bisa jalan-jalan mengenal desa ini dan bisa menggali lebih banyak tentang gadis ini biar bisa bagus dalam cerita nanti. Aku diajak berkeliling di daerah dataran tinngi dengan hawa sejuk seperti ini , banyak sekali hal yang diperkenalkan Ayu kepadaku mulai dari perkebunan Kopi milik ayahnya disana aku diajak untuk memetik biji kopi lalu sampai  ketahap-tahap pengolahannya. Merupakan satu  memori yang tak akan mudah ku lupakan saat berada didesa ini, karna memang orang-orang disana juga sangat ramah dan menerima orang pendatang seperti ku ini.
Semakin lama aku lebih mengetahui tentang gadis cantik itu, hari-hari semakin cepat berlalu waktu di daerah orang ini terasa sangat menyenangkan karna aku memiliki teman yang sangat baik sekali. Sampai akhirnya ini adalah hari terakhir kesempatan yang diberikan oleh bu Nila, aku pun segera menuliskan cerita yang menceritakan tentang ayu dan desa ini. Namun aku masih belum mengetahui mau seperti apa ending yang akan ku tuliskan nanti.
****
            “ Aji kamu punya perasaan yang aneh ndak sih kalau didekat aku?” tanya Ayu yang buat aku tersedak saat meminum kopi Kintamani milikku
            “ Perasaan? , perasaan seperti apa ya Ayu?” tanyaku berpura-pura.
            “Ndak jadi deh Aji, apa hari ini pihak pernebit akan menemui mu lagi? Cerita kayak apa sih kali ini yang kamu ajukan aku mau tahu dong? “ kata Ayu
            “Haha nanti saja ya, akan ku ceritakan jika bu Nila sudah menyetujuinya” kata ku
            Apa Ayu memiliki perasaan yang berbeda denganku? Jika memang perasaan itu benar maka aku telah melakukan hal yang salah. Ntah kenapa aku merasa sedikit kacau ntah itu karna mendengarkan pertanyaan Ayu sebelumnya atau karna menunggu hasil dari cerita yang ku ajukan. Tak lama kemudian bu Nila datang  dan sama seperti kemarin ia membaca keseluruhan  ceritaku.
            “ Ini bagus, lanjutkan” katanya tak lama setelah membaca lembaran kertas yang ku berikan
            “ Ibu serius? “ tanyaku memastikan
            “ Iya serius” katanya lagi.
            Aku yang sangat senang itu pun sampai melupakan janji kalau akan menceritakan apa yang akan kutuliskan ini kepada Ayu, aku hanya langsung bergegas pulang ke penginapanku. Dengan semangatnya aku mengerjakan lembaran demi lembaran dan bab demi bab novel milikku ini.
“ Aji kamu punya perasaan yang aneh ndak sih kalau didekat aku?” kalimat yang tiba-tiba terlewat difikiranku.
            “oh ya Ayu? Aku mungkin telah melakukan hal yang salah kali ini” kataku lalu menutup laptop yang kupegang.
            “Aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat” kataku lagi
****
“Aji..” terdengar suara gadis memanggil nama Aji di dengarnya.
“Mbak manggil siapa? Aji udah pergi mbak sekitaran sejam yang lalu” kata seorang office boy yang keluar dari pintu penginapan Aji.
“apa ? Aji ndak ada memberitahukannya kepadaku sebelumnya”
“ aji hanya menitipkan ini mbak” kata office boy  memberikan sepucuk surat kepada Ayu.
****
Teruntuk Ayu
Ayu maafkan aku ndak pamitan sebelumnya denganmu
Aku hanya takut kalau aku salah selama ini
Novel yang ku buat adalah novel yang menceritakan tentang kamu
Pertanyaanmu hari itu membuat aku tersadar kalau aku telah salah
Mungkin kau ingin mengungkapkan perasaan yang ada didirimu
Namun aku tak sanggup mendengarkannya, aku tak mau membuatmu merasa terluka
Maaf aku tak bisa mendengarkan kalimat cinta yang belum sempat terucapkan
Maafkan aku sebenarnya aku telah bertunangan , dan pada bulan depan kami akan melakukan pernikahan
Maaf …
Note: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Bagikan :

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *