cerpen

WARNA KELABU HIDUP NADIA


Tangan Ayah menjelajahiseluruh tubuhku.Membuka satu persatu pakaian yang aku kenakan. Aku mulai memberontak.Namun, Ayah tetap menahanku dan melakukan perbuatannya.
Jangan, Ayah!  Sakit! Jangan lakukan itu padaku!jeritku.
Ayah tak memperdulikan apa yang aku katakan. Dia tetap mengikuti hawa nafsunya, seolah lupa tentang hubungan ayah dan anak kandung antara kami. Mungkin disebabkan oleh pengaruh alkohol yang diminumnya semalam. Tapi apayang terjadi tubuhku telah dirusak olehnya, hal yang sangat berharga dariku telah direbutnya.
***
Suara pukulan-pukulan tangan ke tubuh pun sudah hal yang terjadi sehari-hari di rumah ini. Rumah ini bersuasana gelap  seperti berada di neraka. Tapi aku tak pernah membenci rumah ini , pun membenci Ayah. Dan aku tak pernah menyalahkan ibuku yang meninggal karena tak mampu lagi menghadapi kenyataan dunia yang menyakitkan.
Namaku Nadia. Aku  berumur 9 tahun, dengan kulit putih dan wajah manis untuk anak seusiaku. Rumahku ini seakan kacau setelah ibu meninggal.  Ya. Ibu meningggal karena  bunuh diri dengan cara menggantung diri. Ibu melakukan itu karena sudah tak sanggup lagi diperlakukan Ayah yang sukanya mabuk-mabukan dan berjudi, lalu menyiksa Ibu karena Ibu tak mendapatkan uang untuk dia melakukan kesenangannya itu.
Ayah berubah sejak ia di-PHKoleh pabrik tempat ia berkerja sejak 3 tahun terakhir. Dulu, suasana rumah  kami  sempat seperti dalam cerita happy ending, yaitu kebahagiaan. Namun, kini semua berubah.
Cepat bikinkan Ayah kopi!“ perintah Ayah dengan nada keras kepadaku yang memecahkan lamunan-lamunan masa laluku.
Cepat..!” katanya sekali lagi
Iii.. ya,Ayah” kataku terbata-bata.
Aku buru-buru memasukkan semua bahan-bahan yang diberikandan dengan segera mengantarkan minuman untuk Ayah. Ayah langsung  meminumnya. Namun,  tak lama kemudian dia menumpahkan minuman itu tepat ke kakiku. Dengan cepat, aku memegang kakiku yang kepanasan.
Apa rasanya? Panas,kan?” teriak ayah tepat di depanku
Sudah Ayah bilang, bikinnya itu setengah air panas setengah air biasa, kamu punya otak apa tidak,” kata ayahku sambil mendorong kepalaku hingga aku terjatuh dan akhirnya aku hanya bisa merespon menanggis tanpa bisa berkata-kata.
Nangis aja yang kamu bisa. Cengeng sekali?Ini akibat keturunan sifat ibumu ini. Tak kuat dengan kehidupan ujung-ujungnya taunya hanya bisa bunuh diri dan mati!” teriak ayahku. Aku hanya bisa menangis dan terus menangis.
Ayah pun pergi keluar rumah, entah ke manaaku pun tidak tahu tentang itu. Terkadang ada perasaan ingin mengikuti jejak ibu dan pergi  bersamanya tapi siapa yang akan merawat ayah?, ayah hanya seorang diri di sini.
Keesokan harinya,seperti biasa aku mencuci baju, menyapu rumah dan sebagainya yang jika dirumah-rumah lain itu dikerjakan oleh ibu. Ingatanku pun melayang kembali ke saat-saat sebelum ibu mengantung dirinya   di kamar.
“ingat ya,Nak! Kamu harus pandai mengerjakan perkerjaan rumah dengan baik. Bantu Ibu untuk melakukan perkerjaan rumah,” kata ibu saat aku berada dengannya didapur.
Selain itu ibu pun mengajariku caranya memasak makanan kesukaan ayah, dan masakan-masakan lainnya. Sangat menyenangkan rasanya saat itu, tapi itu hanyalah kenangan. Hanya sebuah mimpi saat tidur untuk sekarang. Tapi walaupun begitu aku tak boleh menyerah dan tak boleh membenci orang tuaku. Ini hanyalah kisah sedih yang suatu saat akan berakhir yang suatu ketika akan selesai dan akan  menjadi kenangan.
“ Nadia, mana makanan Ayah? Cepat bawa ke sini!” teriak ayah
Sedikit lagi selesai, Ayah,” jawabku dari balik ruangan yang bisa disebut dapur.
“cepat! kamu tak tau rasanya lapar. Ayah sudah capek-capek kerja ini balasanmu” teriak ayah sekali lagi, aku yang mendengarnya hanya bisa terdiam dan berusaha semakin cepat untuk menyelesaikan masakkanku.
Saat aku sudah menyelesaikan masakanku dan ingin mengantarkannya keayahku, ku lihat sosok seorang yang tinggi sudah menunggu di depan pintu. Ayah yang datang pun langsung menepis mangkuk makanan yang ada di tangan sebelah kiri, mangkuk yang berisikan sup yang panas itu pun tumpah tepat diatas kakiku. Kaki ku itu pun terasa melepuh  namun bukannya kaget karna melihat kakiku kepanasan, ayahku malah memarahiku lalu pergi meninggalkan ku sambil membawa piring yang berisikan telur, sayur dan nasi didalamnya. Kaki ku memerah dan terasa panas , namun aku hanya bisa mengolesinya dengan pasta gigi agar rasa sakitnya berkurang. 
Malam itu hujan, dan terdengar suara pukulan-pukulan dari pintu sambil memanggil namaku. Tak ada yang lain lagi itu adalah ayah yang baru pulang. Saat aku membuka pintu aku terkejut melihat ayah yang hampir terjatuh menimpa tubuhku. Tubuhnya basah karnakan hujan yang deras diluar. Tercium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulutnya. Seperti biasa ayah hanya memerintahkanku dengan suara yang tinggi untuk mengambil handuk dan baju ganti untuknya. Aku pun segera menurutinya dan dengan cepat kembali sambil membawakan baju dan handuk untuk ayah.
Ayah segera mengambil handuk dan baju ganti yang kubawa untuknya, setelah itu aku ingin pergi untuk tidur karena sudah larut malam. Namun,saat aku ingin melangkahkan kaki ku kekamar. Tiba-tiba saja, tanganku ditarik oleh ayah dan ayah langsung memeluk tubuhku. Aku sangat senang akan hal itu karna ayah telah kembali seperti yang dulu waktu aku kecil.
Namun semakin lama aku merasa semakin aneh tatkala  Ayah tiba-tiba membaringkan ku di atas sofa yang kumal itu. Aku sempat berpikiran tentang cerita-cerita  tentang gadis yang diperkosa tempo sore, tapi apa kah ayah sekejam itu? Tidak mungkin ayah akan bertindak seperti itu pada anak kandungnya sendiri.
Tak hanya puas telah merebut sesuatu yang sangat penting dariku, kini dia mulai membekap mukaku dengan menggunakan bantal. Gelap, dan rasanya untuk bernafas itu sangat sulit. Semakin lama, semakin sulit dan kini rasanya aku seperti tercekik tak bisa menggerakkan tubuhku. Semuanya terasa hilang dan aku tak merasakan apa-apa lagi.
***
Media berebut melaporkan berita pagi ini, tentang seorang anak perempuan yang meninggal tanpa busana , dengan kepala tertutup oleh bantal. Diduga ia dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri setelah sebelumnya diperkosa terlebih dahulu.
TAMAT
ctt penulis: cerpen yang telah di muat di pontianak post 11 september 2016 🙂
Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *